Menuju Kesehatan Sejati: Mengenal Animal-Based Diet dan Transformasinya Menjadi "Diet Hewani"


Dalam beberapa tahun terakhir, dunia nutrisi dikejutkan oleh pergeseran paradigma yang cukup ekstrem: sebuah pola makan yang justru menempatkan daging merah dan organ hewan sebagai menu utama. Pola makan ini dikenal secara global sebagai Animal-Based Diet. Namun, di Indonesia, konsep ini kini menemukan bentuk barunya yang lebih akrab dan sarat kearifan lokal melalui sebutan Diet Hewani (DH).


​1. Riwayat: Dari "Carnivore" Menuju "Animal-Based"

​Akar dari diet ini bermula dari gerakan Carnivore Diet (diet karnivora murni) yang hanya memperbolehkan konsumsi produk hewan tanpa tumbuhan sama sekali. Salah satu tokoh sentralnya adalah dr. Paul Saladino, seorang dokter lulusan kedokteran fungsional yang dikenal dengan julukan "Carnivore MD".

​Awalnya, dr. Saladino adalah pendukung setia diet karnivora ketat. Namun, setelah beberapa tahun, ia menyadari bahwa eliminasi total karbohidrat nabati berdampak pada gangguan elektrolit, jantung berdebar, dan gangguan tidur. Sekitar tahun 2020, ia merevolusi pandangannya: manusia secara evolusioner memang membutuhkan nutrisi hewani sebagai fondasi, namun juga memerlukan "karbohidrat bersih" yang rendah racun pertahanan tanaman. Dari sinilah lahir Animal-Based Diet yang mengombinasikan daging, organ (jeroan), buah-buahan, madu, dan susu mentah.

Oleh karena Diet Hewani (DH) berawal dari diet karnivora, maka DH juga memperkenalkan beberapa prinsip dan keunggulan diet karnivora, bukan sekedar animal-based.


​2. Mengapa Daging dan Organ?

​Prinsip utama diet ini didasarkan pada dua hal:

  • Nutrient Density (Kepadatan Nutrisi): Organ hewan seperti hati (liver) adalah multivitamin alami terbaik di dunia, mengandung vitamin A, B12, dan mineral dalam jumlah yang tidak bisa ditandingi oleh sayuran.
  • Plant Toxins (Racun Tanaman): dr. Saladino berpendapat bahwa tanaman memiliki mekanisme pertahanan kimia (seperti oksalat, lektin, dan fitat) yang bagi sebagian orang dapat memicu peradangan usus dan masalah autoimun.


​3. Harapan Baru bagi Penyakit Kronis

​Banyak orang beralih ke pola makan ini sebagai "jalur terakhir" setelah pengobatan konvensional tidak memberikan hasil maksimal. Beberapa kondisi yang dilaporkan membaik secara signifikan meliputi:

  • Penyakit Autoimun: Seperti eksim (yang dialami sendiri oleh dr. Saladino), psoriasis, dan Hashimoto’s thyroiditis.
  • Masalah Pencernaan: Seperti Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan perut kembung kronis karena eliminasi serat kasar yang sulit dicerna.
  • Kesehatan Metabolik: Membantu menormalkan kadar insulin, membantu penderita diabetes tipe 2, dan obesitas.
  • Kesehatan Mental: Mengurangi gejala kecemasan dan depresi melalui perbaikan kesehatan usus (gut-brain axis).


​4. Memperkenalkan: Diet Hewani (Sentuhan Kearifan Lokal)

​Meskipun prinsip keilmuannya berasal dari riset global dr. Paul Saladino, istilah "Diet Hewani" lahir sebagai jembatan agar pola makan ini lebih mudah dipahami dan dijalankan oleh masyarakat Indonesia.

​Diet Hewani adalah adaptasi Animal-Based Diet yang disesuaikan dengan kekayaan alam dan budaya kita. Mengapa disebut "Hewani"? Karena pola ini mengajak kita kembali ke "kodrat" atau fitrah biologis manusia sebagai makhluk yang didesain untuk mengonsumsi makanan utuh dari alam.


​Apa yang Membuatnya "Sangat Indonesia"?

​Perbedaan utama Diet Hewani dengan versi Barat terletak pada pemanfaatan Kearifan Lokal:

  • Budaya "Nose-to-Tail" Nusantara: Jauh sebelum dr. Saladino memopulerkan jeroan, masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengolah babat, paru, hati, dan jantung dalam masakan seperti Soto, Rawon, atau Gulai (tanpa campuran minyak goreng olahan). Kita hanya perlu mengembalikan tradisi ini dengan cara masak yang lebih sehat.
  • Ayam Kampung & Telur Lokal: Memanfaatkan sumber protein asli pedesaan yang bebas hormon dan tumbuh secara alami.
  • Kekayaan Buah Tropis: Indonesia adalah surga bagi karbohidrat bersih. Alih-alih mencari buah berry impor, Diet Hewani mengutamakan pepaya, sawo, mangga, hingga air kelapa muda sebagai sumber energi utama.
  • Madu Hutan Asli: Menggunakan madu murni dari hutan-hutan Indonesia sebagai pemanis alami yang fungsional bagi tubuh.

​Diet Hewani bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan gerakan untuk kembali menghargai apa yang sudah disediakan alam bagi tubuh kita. 

Mari kita buktikan bahwa kembali ke makanan asli adalah kunci kesehatan yang sejati.

Awan (Andreas Hermawan)

Danton Awan

Seorang praktisi medis holistik Ananopathy yang mempraktekkan pengobatan dengan nutrisi.

Lebih baru Lebih lama